zafa.com

22 January 2012

Dijual komputer - Jakarta, Jawa - Iklan Baris Gratis - Iklanbook

Dijual komputer - Jakarta, Jawa - Iklan Baris Gratis - Iklanbook .
di jual seperangkat komputer seharga Rp.1 juta saja. 1 monitor jumbo dan 1 pc dan 1 kybord dan mouse. hubungi 0853 1221 6575 di warung buncit jakarta selatn
Diposkan oleh Abu Zahfa di 11:34 PM
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

No comments:

Post a Comment

Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

JANGAN TUNDA

Salah satu penyakit umat Islam yang berat adalah kebiasaan menunda-nunda suatu kebaikan. Contohnya adalah alasan kuno,menunda ke majelis ta'lim sewaktu masih bekerja. Nanti saja kalau sudah pensiun,biar belajarnya fokus.Atau yang dalam keseharian ,seperti mencuci,mandi dan lain-lain, semua ditunda dengan alasan yang beragam.Padahal penundaan tanpa alasan yangkuat sesungguhnya merupakan bentukkemalasan yang berujung pada kekalahan bahkan kehancuran.Dan sebaliknya,tidak menunda pekerjaan adalah bentuk kerajinan yang akan berbuah prestasi dan kejayaan.Karena itu bagi yang di dalam dirinya masih bersemayam sifat menunda pekerjaan maka dia telah memproklamirkan diri sebagai pribadi yang akan cenderung gagal dalam hidup. Dan bagi yangtelah dan selalu bertekad untuk tidak akan pernah menunda pekerjaan, maka dia telah memproklamirkan diri sebagai orang-orang yang layak menjadi pemenang dan terhormat dalam kehidupan. baik kehidupan dunia maupun kehidupan akherat. Sebagai umat Islam yang bergelar umat terbaik , maka sangat tidak layak bagi kita menunda-nunda pekerjaan. Selesaikan pekerjaan secepatnya , setelah itu kita bisa fokus oekerjaan yang lain. Dan pada saat bersamaan dengan kita mengerjakan pekerjaan lainnya,para pemalas baru mengerjakan apa yang sudah kita kerjakan.Itupun kalau jadi,dan kalau masih Allah beri panjang umur.Jadi jangan pernah menunda.

Selagi masih ada waktu

Terima kasih pak,terima kasih.Berulang-ulang kali dia mengucapkan terima kasih pada pa Rasyid yang telah menolongnya membelikan sepeda untuk jualan koran. Pa Rasyid, seorang yang telah diumumkan meninggal, namun beberapa jam kemudian hidup kembali.Hanya mati suri saja rupanya.Dan subhanallah ternyata mati suri yang tidak sampe 4 jam itu merupakan kursus hidup yang sunggug sangat luar biasa. Dia yang tadinya tergolong sebagai orang yang tidak taat ibadah pelit plus sombong, telah berubah menjadi orang yang dermawan,rendah hati dan sangat peduli. Saat mati suri, dia diperlihatkan dosa dan pahalanya. Lalu diapun tercengang, karena pahalanya yang begitu sedikit sedangkan dosanya begitu banyaknya, hingga akhirnya dia diperlihatkan neraka yang begitu berat siksanya. Dia menangis sejadi-jadinya sampai pingsan- ketika dia digiring ke neraka. Pengalaman mati suri itulah yang membuat hatinya berubah total. Dia sadar bahwa kepelitannya dan kes0mbongannya telah mengantarnya ke dalam neraka. Dan sejak itu ketika Allah ijinkan hidup kembali , maka dia bertekad untuk taat beribadah, menjadi orang yang dermawan, rendah hati dan peduli. Hidup memang harus demikian, harus dermawan,rendah hati dan peduli. Namun apakah kita harus mati suri terlebih dahulu baru kemudian mau seperti pa Rasyid?kiranya tidak . yang perlu bagi kita adalah kesadaran, bahwa kita masih diberi waktu. Sadar bahwa kebaikan kita di dunia, kelak akan berbuah surga dan keburukan kita di dunia kelak akan berbuah neraka. Sebab itu berbuat baiklah selagi kita masih diberi waktu. Hidup adalah Amanah.

Popular Posts

  • BIOGRAFI IMAM SUFYAN ATS-TSAURi
    “Sufyan Ats-Tsauri adalah pemimpin ulama-ulama Islam dan gurun...
  • BAITUL MAAL HIDAYATULLAH- www.bmh.or.id
    Jakarta - Direktorat Jenderal Pajak telah menetapkan 20 Badan/Lembaga sebagai penerima zakat atau sumbangan Keagamaan yang sifatnya wajib. ...
  • Puasa dan Keutamaan Rajab
    Ditulis oleh Yusuf Suharto    Bulan Rajab adalah bulan ke tujuh  dari bulan h...
  • Wahai Saudariku, Kenapa Engkau Berpakaian Tapi Telanjang?
    Oleh: Abdullah al-Mustofa SAM JACKSON, bos sebuah perusahaan di New Castle, Inggris pernah mengatak...
  • Majalah Hidayatullah Edisi Juni 2011
    - Jadilah Pribadi Bijaksana - Terorisasi Terhada...
  • Menjadi Kaya Juga Perlu, Tapi...
    Kamis, 22 Desember 2011 SEORANG Muslim tidak sepat...
  • Saatnya untuk Segera Menikah
      SAYA tidak tahu apakah ini merupakan hukum sejarah yang digariskan Allah. Ketika orang mempersulit ...
  • (no title)
      MAJALAH EDISI APRIL 2011 MASIH ADA KESEMPATAN MEMBELI  HARGA Rp. 22.500,-  LANGSUNG DI ANTAR KE RUMAH ANDA   DAPATKAN MAJALAH BACAAN UMM...
  • Saatnya Jatuh Cinta
    APAKAH Anda masih bernasib seperti Siti Nurbaya atau menikah tanpa diawali dengan cinta atau malah kehilangan...
  • Dijual komputer - Jakarta, Jawa - Iklan Baris Gratis - Iklanbook
    Dijual komputer - Jakarta, Jawa - Iklan Baris Gratis - Iklanbook . di jual seperangkat komputer seharga Rp.1 juta saja. 1 monitor jumbo dan ...

Followers

Profil

My photo
Depok , Jawa Barat , Indonesia
View my complete profile

Anda pengunjung ke:

Arsip Blog

Ingin Bejilbab Dilarang Orangtua

Assalamualaikum
Saya ingin mengajukan pertanyaan, saya ingin menggenakan jilbab tetapi orangtua saya melarangnya. Bagaimana cara saya menyakinkan orang tua saya? Sementara saya juga harus menjadi taat?


Jawab :

Waalaikum salam

Mbak Fitri yang dirahmati Allah. Alhamdulillah Allah telah membukakan hati anda untuk mulai menggunakan jilbab, untuk menyempurnakan diri anda sebagai seorang muslimah. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada anda

Setiap orang yang berkeinginan untuk menyempurnakan imannya, selalu dihadapkan dengan ujian-ujian. Kadang ujian itu muncul dari dalam diri kita, seperti nafsu kita yang merasa malu atau berat melakukannya dan bisikan syaithan yang selalu memandang ketaatan kepada Allah itu sebagai kesulitan. Ujian juga datang dari luar diri kita, seperti dari orang-orang yang ada di sekitar kita yang tidak menginginkannya; seperti misalnya: orang tua, suami, atasan atau teman-teman sejawat kita.

Adapun terhadap orang tua anda yang saat ini masih belum bisa menerima anda memakai jilbab, itu boleh jadi karena mereka belum memahami bahwa hal itu merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslimah. Islam mengajarkan agar anda tetap mempergauli kedua orang tua anda dengan cara yang baik.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. Luqman [31]: 15)

Oleh karenanya, berusahalah untuk memberikan pemahaman dan pengertian kepada kedua orang tua dengan cara yang hikmah. Berikan alasan-alasan tentang manfaat berbusana muslimah bagi diri anda, yang mudah diterima oleh orang tua anda.

Disamping perubahan berpakaian lahiriyah anda, yang tidak kalah pentingnya adalah anda juga harus lebih memperbaiki pakaian batiniyah; yaitu akhlaq anda. Dan jangan lupa do’akan selalu kepada Allah, agar kedua orang tua anda dibukakan pintu hatinya untuk dapat menerima kebenaran Islam.

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada anda untuk terus menyempurnakan diri menuju ridha-Nya.

Wassamau’alaikum Wr. Wb

Pengasuh

Sumber: Hidayatullah.com

Mengucapkan Asma Allah SWT di Kamar Kecil

Assalammualaikum wr wb.

Pak Ustadz saya maubertanya,kemaren saya bacapenjelasan tidak bolehmengucapkan asma AllahSWT ditempat-tempat yangdilarang seperti kamar kecil.

Bagaimanakah kalau kita mau berwudhu atau mandi dan mau mengucapkan niat kita,apakahkalau mengucapkannya dalam hati masih dibolehkan karna saya benar-benar jadibingung dengan hal ini juga mengucapkan Basmallah apa bisa dalam hatisaja atau ada cara lain,mohon petunjuknya,sebelumnya terima kasih.

Wasalam,

Hamba Allah

Hamba Allah

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Diantara yang telah diketahui dikalangan para fuqaha bahwa menghindari keburukan lebih diutamakan daripada mendapatkan kemaslahatan dan bahwa hal yang makruh lebih diperhatikan sebelum yang dianjurkan sebagaimana perhatian terhadap hal yang diharamkan sebelum yang diwajibkan.

Hal itu merupakan bentuk minimal dari kehati-hatian. Sebagaimana diketahui bahwa suatu tempat yang dikhawatirkan didalamnya terdapat kotoran dan najis serta tidak diyakini kebersihannya maka berwudhu dari keran didalam kamar mandi (itu) adalah makruh jika dia mengkhawatirkan najis yang disebabkan percikan air yang jatuh ke lantai yang mengandung najis padahal dia menemukan tempat selainnya untuk berwudhu yang aman dari najis. Adapun jika dirinya tidak mendapatkan selain tempat itu untuk berwudhu maka tidak mengapa baginya untuk berwudhu di kamar mandi itu.

Dan diantara adab-adab saat menunaikan hajat adalah tidak berbicara termasuk didalamnya berdzikir, berdoa, membaca al Qur’an, jika dia bersin tidak perlu mengucapkan “Alhamdulillah” dan seandainya ada seseorang yang mengucapkan salam kepadanya maka tidak perlu menjawab salamnya.

Seandainya dirinya mendengar adzan maka tidak perlu menjawab muadzin atau mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin. Diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam shahihnya dari Abdullah bin Umar bahwa seorang laki-laki pernah melewati Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang saat itu sedang buang air kecil, lalu dia mengucapkan salam kepada beliau, namun beliau tidak menjawabnya.

Para ulama berpendapat bahwa larangan itu tidak terbatas pada buang hajat (buang air kecil dan air besar) akan tetapi mencakup keberadaan seseorang di tempat seperti itu untuk menunaikan hajat. Oleh karena itu seorang yang berwudhu di dalam kamar mandi tidak perlu mengucapkan basmalah dan tidak pula menyebut nama Allah saat berwudhu, tidak sebelumnya maupun setelahnya hingga dirinya keluar dari tempat itu. Sedangkan hukumnya adalah makruh tidak haram dan tidak ada sangsi bagi yang melanggarnya namun yang paling utama adalah meninggalkannya.

Yang perlu diperhatikan bahwa niat wajib wudhu atau mandi adalah dihati dan tidak diwajibkan untuk mengucapkannya dengan lisan. Karena itu tidaklah ada tuntutan untuk berniat dengan ucapan selama berada di kamar mandi dan cukuplah baginya berniat dengan hatinya bagi orang berpendapat akan kewajibannya.

Adapun makruhnya berbicara di situ apabila tidak terdapat hal-hal yang darurat atau kebutuhan yang menuntutnya untuk berbicara, seperti mengingatkan adanya bahaya atau menjawab orang yang memanggil dan lainnya, dan jika terdapat hal demikian maka tidaklah makruh karena darurat adalah sesuai dengan ukurannya. (Fatawa al Azhar juz VIII hal 408)

Wallahu A’lam


Sumber: eramuslim.com

Contac

021-33229270
085312216575
E-mail: a.zahfa@gmail.com

Tahayyul Membonceng Gerhana

Oleh Abdul Mutaqin

Kemarin malam (Kamis dinihari pagi), saya berkesempatan lagi “menyolati” bulan. Beruntung sekali, saya berteman dengan orang-orang yang masih menaruh minat menegakkan sunnah Rasul ketika gerhana terjadi. Sejak sore hari, beberapa sms masuk ke HP saya mengingatkan “dini hari nanti, gerhana bulan total. Jangan lupa, solat gerhana, khutbah, berdo’a dan sedekah”. Beruntung, saya sedikit tahu dari kitab-kitab fiqih bahwa saat gerhana terjadi ada kaifiah menyikapinya. Lebih beruntung, bergaul rapat dengan komunitas yang selalu menginstruksikan agar melaksanakan shalat gerhana sesuai tuntunan Rasulullah shallaaahu ‘alayhi wa sallam.

Dengan tidak bermaksud mengecilkan, sholat gerhana termasuk sunnah yang sering terlewatkan oleh mayoritas muslimin. Saya berani bertaruh, tidak ada antusiasme sebesar tradisi nisyfu Sya’ban, maulid, Isr’a wal Mi’raj, nujuh bulan atau haul dan peringatan kematian. Padahal, Rasulullah shallaaahu ‘alayhi wa sallam sangat tegas mengajarkan ummatnya soal gerhana. Maka tidaklah mengherankan, meskipun berita tentang akan terjadi gerhana bulan total kemarin itu tersebar luas di media, ummat terkesan adem ayem saja. Begitu juga halnya imbauan untuk melakukan solat gerhana.

Memang, ibadah bersifat sangat pribadi dan bukan untuk dibangga-banggakan. Tetapi mengajak dan mengingatkan sesama muslim, “Ini loh, ada sunnah Nabi yang perlu dihidupkan. Sunnah yang jarang-jarang bisa dilaksanakan karena harus menunggu gerhana dulu”, harus pula dipahami sebagai seruan amar ma’ruf. Begitulah, menegakkan sunnah ada yang ringan, sedang dan berat. Sholat gerhana, rasanya memang tidak seringan menebarkan salam.

Biasanya, para ilmuan, astronom, ahli hisab atau pemerhati gejala alam tidak akan melewatkan momentum gerhana. Sejak mula detik pertama gerhana terjadi, dicatat dan diamati sampai gerhana berakhir. Apa hasilnya dari pengamatan itu? Mereka bisa memprediksi kapan gerhana akan terjadi kembali. Dan biasanya, seperti gerhana bulan total kemarin malam itu, prediksi itu akurat. Artinya, gejala alam seperti gerhana bulan atau matahari, bisa diprediksi kapan terjadi. Dan berulangkali prediksi itu tepat. Kita lihat saja, menurut para ahli, gerhana bulan akan terjadi lagi pada 11 Desember 2011 nanti. Kita tunggu.

Ketepatan dan akurasi soal kapan terjadi gerhana memang memungkinkan. Sebab peredaran matahari dan bulan ternyata bisa dihitung. Posisi matahari dan bulan sudah bisa ditentukan dengan perhitungan (hisab) dari waktu ke waktu. Apalagi dibantu dengan teknologi maju seperti sekarang.

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (terjemah QS. Yunus [10] : 5)

Gerhana bulan itu terjadi saat purnama. Ia bisa dihisab dan sudah pasti bisa diru’yat jika cuaca cerah. Artinya, gerhana bulan yang pasti bisa diru’yat itu, sebelumnya sudah dihitung lebih dulu oleh metode hisab. Di sini, seolah tidak ada pertentangan soal hisab dan ru’yat. Pertentangan keduanya baru hangat lagi saat penentuan awal bulan, baik untuk 1 Ramadhan atau 1 Syawwal. Saya berpikir, jika perhitungan hisab dalam kasus gerhana itu akurat, mengapa hisab sering diperdebatkan saat penentuan awal bulan? Allahu a’lam. Ah, bisa jadi karena saya bukan sama sekali ahli bidang itu.

Pada masa Nabi, gerhana dan solat gerhana itu karena spontanitas. Saat ada gerhana, spontan nabi mengajak para sahabat untuk melaksanakan solat gerhana. Lha sekarang, saya kira solat gerhana itu bisa direncanakan. Mengapa? Karena dengan hisab dan teknologi, perhitungan mengenai matahari dan bulan dan kapan terjadi gerhana, sudah diprediksi sebelumnya. Mudah bukan? Di satu sisi, dengan kemajuan teknologi ini, sebenarnya kita dimanjakan untuk melaksanakan sunnah. Tapi rupanya kemudahan itu belum disadari merata kehadirannya. Yang terasa tidak elok, adalah sikap yang seolah meremehkan, “Ah …, itu kan hanya sunnah. Masih banyak sunnah-sunnah yang lain kok”. Kok?

Menyaksikan gerhana bagi seorang muslim, bukan sebatas menyaksikan keajaiban alam semesta sebagaimana layaknya kekaguman para saintis. Tetapi bagaimana kemudian ketakjuban itu diarahkan pada ke-Maha Agungan Allah atas segala ciptaan-Nya. Dia yang Menciptakan. Dia Yang Memelihara. Dia Yang Mengatur. Dan Dia pula Yang Menghancurkan. Wajarlah jika kemudian Rasulullah mengajarkan ummatnya bagaimana cara yang hanif saat mereka disapa gerhana. Maka solat gerhana, memanjatkan doa dan banyak bersedekah, merupakan kombinasi dari ketakjuban atas Kuasa-Nya, rasa takut, tunduk dan patuh serta rasa syukur yang membuncah. Sungguh, sunnah Rasululah itu indah dan manusiawi.

Jika saintis sebatas kagum, lain halnya dengan si otak tahyul. Oleh mereka gerhana dihubung-hubungkan dengan misitisisme irasional. Konon saat gerhana, gelap adalah keadaan di mana matahari atau bulan sedang ditelan raksasa. Supaya raksasa itu gagal menelan benda langit itu, dipukullah lesung, alu, perabot rumah, kaleng rombeng untuk menimbulkan suasana gaduh dan bising. Karena suasana gaduh dan bising itulah, sang raksasa terganggu dan memuntahkan kembali matahari atau bulan yang berada di mulut raksasa. Selamatlah bulan atau matahari. Dan dunia terang kembali setelah beberapa waktu diselimuti gelap.

Aroma mistik gerhana juga merambah ke atas ranjang. Entah siapa yang memulai, sepasang suami isteri berpantang melakukan hubungan badan saat ada gerhana. Mereka khawatir jika terjadi pembuahan karena hubungan itu, wajah anak mereka kelak akan dwi warna; separuh cemong, separuhnya lagi cerah bercahaya. Tak pelak, wanita-wanita hamil pun blingsatan masuk ke kolong bale-bale sebab khawatir bayinya kelak separuh hitam separuh putih.

Masyarakat Indian percaya, Naga lah yang menelan bulan atau matahari itu. Maka mereka melakukan ritual berendam di air sebatas leher agar sang Naga gagal menelan bulan dan matahari itu.

Masyarakat negeri Sakura percaya, saat gerhana dan gelap menyelimuti, racun tengah disebar di atas muka bumi. Maka mereka segera menutup rapat-rapat sumur-sumur dan sumber air mereka agar tak tercemar oleh racun itu. Demikian pula masyarakat Eropa, masyarakat yang dikenal rasional itu tidak luput dari balutan tayahul saat gerhana terjadi.

Pada masa Nabi, bau-bau tahayul dan mistis saat gerhana juga sudah tercium. Beberapa riwayat menyebutkan, satu kali terjadi gerhana matahari berbarengan dengan wafatnya putra Rasulullah shallaahu ‘aliyhi wa sallam; Ibrahim pada sekitar tahun ke-10 H. Masyarakat ribut dan menghubung-hubungkan kejadian gerhana disebabkan karena putra Nabi wafat. Berita ini sampai ke telinga Nabi dan segera beliau meluruskan sisa-sisa kepercayaan jahiliyah itu.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dinyatakan, telah terjadi gerhana matahari, lalu Nabi berdiri, khawatir terjadi kiamat, terus berangkat ke masjid, lantas Nabi berdiri, ruku’ dan sujud yang lama, tidak pernah sebelumnya aku melihat seperti itu, Dan Rasulullah bersabda, “Tanda-tanda kebesaran Allah dan yang Dia kirimkan ini bukanlah karena kematian atau hidupnya seseorang, namun dengannya Allah hendak menakuti hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu jika kamu melhat gerhana itu, maka segeralah kamu menyebut nama-Nya, berdo’a kepada-Nya, dan mohon ampun kepada-Nya.” (Muttafaq ‘alaih).

Demikian pula yang dilaporkan Ibnu Abbas. Sesaat masyarakat ribut menghubung-hubungkan kematian Ibrahim dengan penomena gerhana, Rasulullah segera bertindak membersihkan pikiran tahayul dari isi kepala dan hati mereka. Ibnu Abbas melaporkan:

“Kemudian Nabi berdiri, lalu memberikan khutbah kepada hadirin dan memuji kepada Allah dengan semestinya. Lalu katanya,” Matahari dan bulan adalah dua macam tanda dari sekian banyak ayat-ayat Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan bukanlah karena mati atau hidupnya sesorang. Karena itu, jika kamu melihatnya, segeralah mengerjakan shalat”. (HR. Syaikhani).

Sekali seumur hidup, jangan sampai lengah. Masa, sekali pun belum pernah ikutan solat gerhana?

Solat gerhana itu hanya dua rokaat. Setiap rokaat dua kali baca Al-Fatihah, dua kali baca surah, dua kali ruku dan dua kali sujud. Pada rokaat pertama setelah imam membaca Al-Fatihah dan surah yang dizaharkan, dilanjutkan dengan ruku. Menurut sunnah, rukunya panjang. Sehabis bangun dari ruku (i’tidal) seraya imam mengucap sami’aAllaahu liman hamidah, imam kembali membaca Al-Fatihah kemudian membaca surah lagi. Lalu ruku sekali lagi, i’tidal dan kemudian sujud dua kali. Kaifiyah ini diulangi pada rokaat yang kedua. Lalu salam. Dan mendengarkan khutbah.

Mendirikan solat gerhana bukan berarti menyembah matahari atau bulan seperti yang dituduhkan orang-orang usil dan dengki dengan lurusnya syari’at Islam. Sudah bukan rahasia lagi, banyak orang menuduh kaum muslimin tengah menyembah Ka’bah atau Hajar Aswad saat mereka berhaji. Keliru. Sama kelirunya ketika melihat kita berdiri melaksanakan solat sunnah gerhana, mereka tuduh sedang mengagungkan dan mempertuhankan matahari dan bulan. Nehi. Al-Qur’an menyatakan, haram hukumnya manusia menyembah bulan dan matahari, tetapi kita tengah mengagungkan yang menciptakan matahari dan bulan itu.

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (terjemah QS. Fushilat [41] : 37)

Begitulah urgensi gerhana dan respons sunnah atasnya. Melalui penomena gerhana, sunnah tengah mendidik kita meneguhkan tiga pilar pokok; pilar aqidah dengan menjernihkan iman bahwa gerhana itu hanya satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Tidak ada hubungannya dengan kematian dan kelahiran seseorang. Ini kita dapatkan dari melaksanakan takbir dan berdo’a saat gerhana terjadi. Kedua pilar ibadah, dengan mendirikan dua rokaat solat sunnah gerhana. Para ulama sepakat, bahwa solat gerhana itu sunnah mu’akkadah. Dan ketiga pilar mu’amalah dengan membudayakan sedekah.

Dengan begitu, bukankah solat gerhana itu sayang untuk dilewatkan? Semog Allah semakin memperteguh iman kita dengan phenomena gerhana. Aamiin. Allahu a’lam.

abdul_mutaqin@yahoo.com

sumber: hidayatullah.com

KEPALA

Seekor gorila jantan tampak mondar-mandir di antara anggota kelompoknya. Di situ, ada beberapa gorila betina, gorila jantan kecil, dan beberapa anak gorila yang mulai tumbuh besar.

Menariknya, di tengah kelompok itu, si gorila jantan kerap menghampiri sebuah cermin yang menjadi benda kebanggaannya. Setiapkali berada di depan cermin, si gorila jantan begitu betah berlama-lama karena bangga dengan sosok tubuh dan kepalanya yang besar.

“Ah, aku memang pemimpin yang hebat,” ucapnya sambil kedua tangannya memegang kepalanya yang tampak besar di bayangan cermin.

Tiap kali seusai bercermin, sang gorila mengumpulkan kelompoknya untuk mendapatkan semacam ‘arahan’ khusus. Di situlah, ia benar-benar merasa besar.

Suatu kali, sang gorila berkunjung ke kelompok beruang. Anggota kelompok beruang ini jauh lebih besar dari kelompok gorila. Dan menariknya, sang gorila menemukan cermin dalam kelompok itu.

“Boleh aku tatap cermin ini untuk melihat seperti apa wajahku?” tanya gorila ke pemimpin beruang. Dan, sang pemimpin beruang pun mempersilakan.

Agak lama sang gorila berdiri di depan cermin. Tapi, tetap saja bayangan dirinya tak berubah. Sang gorila terheran-heran karena bayangan dirinya di cermin si beruang agak aneh. Tubuhnya memang besar, tapi kepalanya kecil.

Saat itu, sang gorila tidak tahu apa sebabnya. Ia hanya bergumam dalam hati, “Ah, cermin rusak!”

Begitu pun ketika ia berada di kelompok macan tutul, ular sanca, buaya, dan beberapa hewan buas lain. Tetap saja, cermin di tempat mereka selalu menampakkan sebuah bayangan yang sama: tubuh besar, tapi kepala kecil.

**
Subjektivitas diri seseorang, terlebih lagi seorang pemimpin, biasanya ingin mendapatkan sebuah bayangan cermin sosial dari orang-orang di sekelilingnya bahwa ia seorang yang punya gagasan besar.

Sayangnya, subjektivitas itu kadang tidak diimbangi dengan objektivitas yang mungkin berbeda ketika bayangan berasal dari cermin sosial di luar kelompoknya.

Karena seorang pemimpin yang benar-benar bergagasan besar akan tetap mendapatkan pengakuan besar, walaupun berasal dari luar kelompoknya.

sumber:www.eramusilm.com


Majalah edisi khusus 2011

Majalah edisi khusus 2011

Jual Obat Herbal

Jual Obat Herbal

Majalah Edisi Desember 2011

Majalah Edisi Desember 2011
Dapatkan Sekarang Juga (via sms ke: 0853 1221 6575))

Dijual komputer

Dijual komputer

Mereka Tanggung Jawab Kita

Mereka Tanggung Jawab Kita
Cita-citanya perlu kita dukung dengan menjadi orang tua asuh bagi mereka ...apa anda bersedia menjadi orang tua asuh?hubungi kami segera!
Watermark theme. Theme images by rami_ba. Powered by Blogger.

Daftar Link

  • www.detik.com
  • http://www.pustakaimamsyafii.com
  • http://kiozafa.blogspot.com
  • www.bmh.or.id
  • www.hidayatullah.com